Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Banyak teman-teman yang masih menyangka kalo saya berdomisili di sekitaran Jabodetabek, makannya masih muncul pertanyaan "eh, lo sekarang menetap di Jogja, Put?" :D

Sejak back for good dari Singapura 6 tahun yang lalu, kami (saya dan Mas Delta) memang sudah berniat untuk menetap di Jogja. Meskipun saat itu juga kita not really sure usaha Mas Delta akan mengarah kemana, tapi memang di hati yang paling dalam Jogja merupakan pilihan yang terbaik untuk saat ini. Saya sendiri ga pernah membayangkan bakal berdomisili di Jogja (meskipun sampai sekarang KTP masih belum dipindah alamatnya, hihi). Kalo bukan karena base-nya Qiscus ada di Jogja, mungkin kota ini ga akan jadi kota yang kami tinggali di 6 tahun terakhir ini.

Banyak down and up yang kami alami selama merintis tinggal di sini. Mula-mula selama 1 bulan di awal kami menumpang tinggal di rumah kakak ipar. Sebaik-baiknya kakak ipar saya, tapi tetep ga nyaman kalo harus menumpang tinggal berlama-lama ya, hehe. Sampai akhirnya kami menemukan salah satu kostan pasutri di Maguwoharjo yang (waktu itu) dekat dengan kantor Qiscus pertama.

Kost-annya dulu ada di dalam perumahan ini
Ini gambar kamarnya. Nyomot dari foto infokost.com

Namun, selang beberapa bulan berikutnya ternyata kantornya juga pindah ke daerah kota. Kira-kira 1,5 tahun tinggal di kostan (dan dengan kondisi finansial yang mulai membaik), kami dapet rezeki tinggal di kontrakan deket UGM. Kontarakan kecil dengan 2 kamar di tengah kota (lebih tepatnya tengah perkampungan kota) yang waktu itu uang sewanya sebesar 12,5 juta setahun. Meskipun kecil, tapi cukup nyaman buat kami tinggali berdua. Terlebih rumahnya dekat dengan jalan besar, dekat halte transjogja, dekat dengan tugu, pokoknya dekat kemana-mana deh. Tapi memang air bersih yang mengalir menjadi issue tersendiri di kala musim panas, hehe. Minusnya itu aja sih, yang lainnya baik-baik semua. Lingkungannya juga Alhamdulillah aman. Pernah kunci motor masih kecantol tapi aman sampai pagi, haha (jangan ditiru).

Mesjid dan jalan ke arah kontrakan. Kontrakannya persis 2 rumah di belakang masjid.

Setelah saya lulus sekolah Magister Profesi Psikologi di UGM, kami mulai kepikiran untuk nyari rumah (beli rumah). Waktu itu kepikirannya memang ingin tinggal di daerah utara karena job incaran saya (sekolah incaran maksudnya) ada di wilayah utara. Iseng-iseng nyari follow akun jual rumah di Instagram, ada beberapa yang kelihatannya cocok dan harganya sepertinya masih reasonable.

Sok-sokan aja ngehubungin marketingnya, padahal waktu itu kita juga ga tau kalo ngambil akan gimana bayar DPnya, hahaha. Visit ke tiga rumah, yang satu rumah di perumahan tapi keknya terlalu kecil dan harganya juga kok kayak overprice. Lalu ke rumah kedua, cluster di tengah sawah. Meskipun rumahnya bagus, tapi lingkungan yang cukup sepi dan ternyata harganya bikin kami gak sreg, haha. Yap, lingkungan rumah yang aman dan ramai menjadi point penting buat kami, karena mas Delta akan sering di Jakarta saat weekdays yang membuat saya akan sendirian. Lalu rumah yang ketiga, sekitar 1.5 km dari jalan utama. Dari jalan utama ke perumahan ini pemukimannya memang tidak terlalu ramai, tapi tidak terlalu sepi juga. Lingkungannya masih asri banget memang. Apalagi pas masuk ke dalam perumahan, ngebuat jatuh cinta banget.

Ini suasana dari gerbang utama. Keluar gerbang utama bisa langsung liat merapi

Banyak pohon, ada satpam 24 jam, dan ada lapangan fasilitas umumnya. Sejuk dan adem, apalagi saat musim hujan bisa sampai 16-18 derajat loh. Keluar gerbang kita juga sudah bisa melihat gagahnya Gunung Merapi.


Ini pemandangan dari depan gerbang perumahan

Pokoknya memang langsung kepincut sama rumah ini. Setelah melihat ketiga rumah itu, kamipun menimbang apakah bisa ya ngambil rumah ini (dengan KPR). Setelah menimbang-nimbang dan cari strategi akhirnya besoknya Bismillah langsung diputuskan ngambil rumah ini. Sungguh kami memang impulsif padahal uang buat DP juga cuma seberapa belum lagi ditambah biaya-biaya KPR lainnya, 😄. Tapi yang namanya rezeki ya, Alhamdulillah waktu itu kami dapet best deal banget dari Bank Syariah yang emang lagi promo. Dengan cicilan yang reasonable dan dalam jangka waktu 10 tahun saja Alhamdulillllaaaah. Bener-bener rezeki banget saat itu. Kapan-kapan saya ceritain proses nyari KPR di Bank Syariah ya.

Sekarang Alhamdulillah, sudah hampir setahun kami tinggal di sini. Ngerasain banget perbedaan yang signifikan dari kualitas hidup dan kualitas udaranya sejak tinggal di sini. Kalo dulu pas tinggal di daerah pemukiman kota yang pada penduduk, saya dan mas Delta hampir sering sakit flu. Bahkan mas Delta pernah sampai 2 bulan bolak-balik ke dokter karena batuk yang ta kunjung sembuh. Semenjak tinggal di sini, karena banyak suplai oksigen mungkin ya, Alhamdulillah flu jaraaaang banget mampir. Biasanya kalo udah agak-agak ga enak tenggorokan, dihantam sama jus buah dan makan sayur langsung cepet pulih lagi.

Hal ini juga dialami oleh Ibu saya. Jadi ceritanya bulan April lalu ibu saya sempet kena insomnia parah. Ga bisa tidur blas sama sekali. Selain itu kadang suka kena sesak napas seperti serangan panik. Sampai di bawa ke dokter penyakit dalam dan ketergantungan obat penenang. Kami waktu itu inisiatif ibu dan bapak diboyong ke sini dulu. Sehari tinggal di sini, bener-bener kebesaran Allah, serangan panik dan sesaknya gak muncul lagi. Ibu juga mulai ngurangin konsumsi obat penenangnya dan Alhamdulillah 2 bulan tinggal di sini ibu bisa pulih kembali.

See, emang ya kualitas udara dan asupan oksigen emang ngaruh banget di kondisi kesehatan seseorang. Alhamdulillah, bisa ngerasain tinggal di (lingkup) desa. Buat yang memang rezekinya tinggal di perkotaan, mungkin bisa mempertimbangkan untuk memperbanyak tanaman yang ditanam di rumah demi asupan oksigen yang lebih baik, ya.

Oh iya, tapi ga melulu enak ko tinggal di daerah lingkup desa. Di sini karena dekat merapi (saya ada di perbatasan antara zona 3 dan 4), kami tetep mesti sigap seumpama erupsi merapi besar. Saat merapi meletus 2010 lalu, yang tinggal di daerah sini harus ikut mengungsi karena hujan abu yang pekat. Sejak tinggal di rumah ini, saya juga dua kali rumahnya di singgahi ular sawah, hahaha. Sempet shock tetep. Kali pertama pagi-pagi saat halaman belakang dibikin sumur resapan dan dipasang conblock, kali kedua ditemukan saat bersih-bersih sehabis pulang dari libur lebaran. Alhamdulillah waktu itu langsung manggil pak satpam dan dengan sigap ditangkap dan dilepas di sawah. Oh jangan salah, tidak hanya ular sawah, waktu itu pas naik gojek, saya juga pernah lihat ular hijau lagi nyebrang antara ladang satu dengan ladang lain. Kali lain ular sanca sepanjang 3 m juga ditemukan sama penduduk kampung sebelah lagi merayap di dekat kuburan seberang perumahan saya, haha. Risiko tinggal di desa, ya akrab sama macam-macam hewan yes....

Segini dulu ceritanya, sampai ketemu di postingan selanjutnya.

-puti-





Kadang saya berpikir, sepertinya saya butuh menyalurkan energi "nurturance" saya ke hal lain selain suami tentunya. Maka saat sudah tinggal di rumah sendiri, saya kepikiran untuk "memelihara" sesuatu. Kepikiran mau melihara kucing, tapi ngitung-ngitung biaya yang harus dikeluarin keknya masih belum bisa yak, hehe. Masih mau nabung untuk hal lain.

Lalu akhirnya memutuskan untuk berkebun saja. Sebenernya dulu juga sudah mulai, namun karena sedikit renovasi halaman belakang dan depan tanamannya jadi mati semua, heuheu. Sekarang sudah mulai nanem lagi. Nanem tumbuhan yang emang bisa dimanfaatkan. Maka, inilah beberapa tanaman saya...


tanaman yang sengaja di tanam di pot


Ada tomat yang ditanam dari biji/benih. Lengkuas dan jahe hasil tanca[an juga. Daun bawang yang ditancap dari sisa bahan yang dibeli. Daun kucai hasil pemberian bude dari pertama kali penanaman, Alhamdulillah awet sampai sekarang.


re-grow lettuce, jeruk limau, dan nusa indah


Kemarin mencoba nge-regrow lettuce juga, tapi belum tau bisa jadi apa ga. Di pot yang besar juga nanem jeruk limau. Alhamdulillah walaupun kemarin sempat mengenaskan kondisinya, sekarang tumbuhnya bagus dan sudah mulai menumbuhkan bakal buahnya.




Nah, kemarin pas ke pasar ngeliat tukang jualan tanaman, gak sengaja ngeliat bunga yang cantik. Ternyata namanya bunga nusa indah. Langsung deh secara impulsif dibeli, >.<. Karena belum punya pot, jadi pollybagnya ditaruh di keranjang/ tempat sampah yang nganggur dulu.

Yang lucu dari perilaku berkebun kali ini, kadang kalo pas saya kelewatan menyiram akibat pulang malam, saya suka sedih dan minta maaf sama mereka sambil disiram malam-malam. Kemarin juga coba ngerawat sukulen. Coba beli 2 buah. Satu minggu masih aman, namun kayaknya karena saya pas weekend kelupaan ngangkat waktu dijemur di luar dan pas Jogja lagi panas-panasnya, satu sukulen akhirnya layu dan daunnya kayak kebakar. Tapi yang satunya baik-baik aja. Padahal itu juga ga ditaruh kena matahari langsung, huhu. Jujur waktu itu ngerasa sedih banget dan nyalahin diri. Kok bisa sampai mati sih. Padahal kalo dulu pohon ga tumbuh ya saya biasa-biasa aja. Mungkin karena sekarang udah lebih ngelibatin perasaan yak, haha.

Alhamdulillah ngerasain efek positifnya sih sejak menanam-nanam ini. Saya juga jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab untuk nyiram. Seneng banget kalo ada pucuk daun baru, dan sedih kalo kelihatan layu atau daunnya bolong karena dimakanin sama belalang atau kupu putih, heuheu. Tapi paling seneng kalo pas kita butuh masak, bisa langsung ambil dari kebun sendiri.

Oh ya, selain menanam, saya juga lagi belajar buat komposter loh. Kapan-kapan saya ceritain ya. See you on the next post.

-Puti-



Hallo...hallo...

Sudah lama tidak bersapa, apa kabarnya semua?

Alhamdulillah saya baik-baik saja.

Hari ini sudah memasuki masa-masa akhir semester 2 nih. Alhamdulillah sudah menjalani exit test juga. Exit test itu adalah ujian lisan mengenai laporan hasil dari mendampingi seorang klien yang telah ditentukan temanya. Dari exit test ini kita bisa tau apakah kita dinilai layak sama dosen untuk diterjunkan di praktik kerja semester 3 nanti.

Jadi, sekarang ceritanya lagi menjalani masa-masa revisi aja. Sama ada 2 mata kuliah di luar mayor lagi yang masih running. Lebih santai sih memang, tapi malah kadang bikin saya frustasi karena ga ada kesibukan di luar, wkwkwk.

Perjalanan hampir satu tahun kuliah keprofesian ini rasanya ggado-gado. Ditambah status saya yang adalah seorang istri dari start-up-er yang lagi ngerintis usahanya menambah kegado-gadoan kehidupan profesi saya, :D.

Tapi ini udah risiko dari sebuah keputusan sih. Yaiyalah, kami bisa aja dibilang nekat, wong status financial bulanan aja kadang ga tentu tapi saya nekat ngambil kuliah profesi, hahaha. Jadinya ada masa-masa beberapa bulan saya benar-benar galau karena ga tau bulan depan akan ada pemasukan atau enggak di saat uang ditabungan dah ludes blas. Untungnya punya keluarga yang selalu bisa dimintain bantuan kalo lagi dalam keadaan mendesak. Alhamdulillah meskipun terseok-seok, insya Allah sampai saat ini bisa dilalui dengan baik.

Oke, balik lagi ke cerita profesi, Hmmm, yang paling menarik dari kuliah profesi apa ya? Pengalaman langsung bertemu dan berinteraksi dengan permasalahan real. Ditambah seperti ada perasaan bahagia gitu kalo orang yang kita tangani ternyata mengalami perubahan, meskipun cuma sedikit rasanya udah bahagia banget.

Iya, itu garis besarnya update-an saya. Nanti kita sambung lagi ya dengan topik yang lebih fokus.

Wassalam :)

Assalamu'alaikum semuanya....

Ini ceritanya saya mau lanjutin cerita dari Pascasarjana UGM #1. Nah dua syarat utama untuk mendaftar di pascasarjana UGM adalah punya sertifikat psikotes Bappenas atau psikotes yang diadain oleh UGM sendiri, namanya PAPs. Selain itu juga udah harus punya sertifikat tes bahasa Inggris macam TOEFL, IELTS, atau bisa juga ikutan tes di FEB UGM, namanya AcEPT.

Sebelum tahun 2014, dua tes ini sudah menjadi satu dengan rangkaian tes dan wawancara ujian masuk UGM, namun tahun ini (2014) dibuat berbeda. Ada untungnya juga sih prosedur tahun 2014, yaitu harus udah punya nilai psikotes dan tes bahasa Inggris. Untungnya adalah kita bisa ambil tesnya jauh-jauh hari sebelum tanggal pendaftaran, jadi hasilnya ketahuan apakah udah memenuhi syarat atau belum. Kalau belum memenuhi standarnya, bisa coba terus. Kalau sudah berhasil memenuhi nilainya, paling enggak kita udah 75% deh mantep. Tinggal nanti jalanin tes wawancara atau tes kekhususan lainnya kalau ada.

Nah, waktu itu saya sendiri mulai ikutan ITP bulan April 2014. Itu sih karena suami saya udah gemes banget, sebenernya nyuruhnya udah dari jaman dahulu kala (lebay :p). Saya ngambil tes ITP-nya di ELTI Jogja. Kalo gak salah ada beberapa tempat penyelenggaran tes ITP ini. Di FEB UGM juga ada deh kalo gak salah. Oh ya, kemarin saya bayar Rp. 300.000 deh buat ikutan tes ini (maap lupa). Nah kalo emang mau lebih murah, bisa ikutan AcEPTnya UGM, bayarnya Rp. 125.000 aja kalo gak salah. Tapi kalo emang niat mau daftar beasiswa sih saya saranin ikutan ITP aja, soalnya ini bisa dipake buat daftar ke berbagai macam institusi. Mahal dikit gak apalah.

Persiapan ikutan ITP saya jalanin selama dua minggu. Tiap pagi sebelum kerja saya coba ngerjain soal-soal grammar. Nah hari sabtu dan minggu baru digeber semuanya, dari listening, grammar, juga structure. Maklumlah ini tes formal pertama yang saya ikutin, jadinya agak cemas sebenernya, dan salah satu coping nya ya dengan belajar :p.

Nilai tes keluar seminggu kemudian. Alhamdulillah nilai saya di atas 500 lebih sedikit. Masih kurang puas sih sebenernya, huhu. Salah satu yang saya sesalkan ikut tes kemarin adalah saya ikut yang tes-nya malam. Udah capek seharian kerja jadinya cuma ngerjain dengan sisa-sisa energi deh, hiks (alasan ini mah sebenernya). Oh ya karena di persyaratan UGM diminta dua salinan untuk nilai tes bahasa Inggris dan psikotest, mending pas nerima hasilnya buru-buru di legalisir deh, soalnya legalisir makan waktu sekitar dua minggu. Biayanya Rp. 250.000 untuk dua salinan. Mahal sih sebenernya, tapi ya mau gimana lagi, hiks.

Nah kalo untuk PAPs bisa daftar di psikologi ugm. Coba aja cek webnya, nanti keliatan jadwalnya ada tanggal berapa aja. Saya sih saran kalo bisa ikutannya di weekend. Ga tau rasanya lebih rileks aja. Kalo oto Bappenas juga bisa dilihat di webnya ya. Kalo seumpama UGM terjangkau dari tempat domisili, saya sih saran ikutan PAPs aja soalnya lebih murah (PAPS 125.000 vs oto Bappenas 400.000). Untuk persiapan PAPs keknya saya belajar sekitar dua minggu juga deh (eh, lebih denk keknya). Mirip lah sama strategi waktu ITP. Tapi enggak tau kenapa tes PAPs ini bikin deg-degan. Mungkin karena ngeliat soal-soal di psikotes Bappenas yang bikin kening berkerut kali ya, hahaha. Emang kerasa lebih menekan karena susyeee. Oh iya, saya belajarnya pake buku persiapan tes oto Bappenas. Ya, namanya juga psikotes, soal-soalnya miriplah. Eh tapi di PAPs UGM, ada soal macam diagram ven gitu sih. Jadi ada pernyataan yang mesti kita gambarkan dengan gambar himpunan bulatan (macam diagram ven-lah).

Hasil dari PAPs akan diumumkan di web-nya juga. Tanggal pengambilannya juga nanti diumumin di webnya. Untuk ngelegalisirnya PAPs ini butuh waktu sekitar dua hari sejak fotocopyan sertifikat aslinya diserahkan ke bagian tata usaha psikologi UGM. Jadi ya abis nerima sertifikat aslinya kita mesti copy sendiri (saya waktu itu bikin lima, kalo gak salah emang minimal lima deh). Di psikologi UGM sayangnya ga ada tukang fotocopy, jadi kamu harus nyebrang ke FISIP dulu. Abis itu bayar ke bagian keuangan (@ Rp. 2500, karena saya legalisir lima maka bayar Rp. 12.500). Terus kasih deh fotocopyan kita ke bagian TU. Bagian keuangan dan TU ini ada di gedung A. Balik lagi dua hari setelahnya untuk ngambil legalisirnya. Agak rempong sih buat yang gak domisili di Jogja :(.

Oke deh segini aja dulu ya. Oh ya tadi kan di atas saya nyebutin enaknya tes TOEFL ITP dan PAPS ga masuk rangkaian UM UGM adalah kita bisa coba terus sampai memenuhi standar persyaratan. Nah, ga enaknya adalah rempong booo, hahaha. Iyalah, ini beruntung aja saya berdomisili di Jogja setahun terakhir ini. Coba kalo di luar Jogja, mesti bolak-balik berapa kali itu, :D.

Eh lupa, Alhamdulillah nilai tes PAPs saya sekali coba sangat memenuhi persyaratan buat daftar. Padahal bada' tes saat ditanya sama pak suami saya cuma bisa pasrah dan bilang "gak tau deh, semoga nilainya memenuhi (syarat)".

Kemudahan tes ITP dan PAPs yang saya jalanin gak lain karena doa dari keempat orangtua, dukungan luar biasa yang diberikan pak suami (yang ngebombardir saya tiap weekend dengan kata-kata "Ayo, Dek belajar" dan dengan semangatnya ngajak saya ke platinum -internet cafe- biar saya ga kegoda sama kasur), dan juga dengan persiapan serta doa yang saya lakukan. Terlebih lagi ni karena kehendak Allah yang memudahkan semua prosesnya, Alhamdulillah.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya....


Pengin sharing tentang segala macam yang berhubungan dengan pendaftaran dan seleksi pascasarjana UGM.
Berhubung tahun ini prosedurnya beda dari tahun-tahun berikutnya, berikut akan saya jelaskan:

1. Lihat persyaratan peserta di web UM UGM. Salah satu yang paling krusial adalah IPK S1. Untuk yang akreditasi programnya A, IPK harus lebih dari 2,5; untuk yang akreditasinya B, IPK harus lebih dari 2,75; Untuk yang akreditasinya C, IPK harus lebih dari 3.

Nah akreditasi ini bisa dibuktikan dengan fotokopi sertifikal fakultas (atau program studi) yang telah dilegalisasi. Biasanya mintanya ke bagian pendidikan akademik masing-masing fakultas. Kalo saya waktu itu mintanya ke bagian dekanat, etapi karena baru aja pembaharuan akreditasi (setelah sekian lama kagak diurusin update-annya) jadinya dekanat belum punya sertifikatmya, hahaha. Akhirnya ngomong sama bagian pendidikan fakultas di UGM yang saya tuju, dan ceritain kasus saya ini. Alhamdulillah bukti fotokopinya bisa diganti dari hasil comotan di situs ban pt. hahahaha.

2. Ini syarat yang krusial lagi, yaitu harus udah punya nilai tes potensi akademik (TPA) Bappenas atau TPA yang diadain oleh psikologi UGM (yang masih berlaku), dikenal dengan PAPs. Bagi yang belum punya bisa tes jauh-jauh hari sebelum masa pendaftaran berlangsung, karena kedua sertifikat ini bisa berlaku sampai 2 tahun. Selain punya nilai TPA, pendaftar juga harus punya nilau hasil ujian tes English, bisa TOEFL ITP atau IBT (yang diakui oleh IIEF), nilai IELTS (diakui oleh IDP), atau AcEPT-nya UGM. Minimal nilainya harus setara dengan 450 pada ITP.

Jadi ga akan ada tuh tes tertulisnya lagi karena udah punya ini. Kecuali kalo program studi tujuannya mensyaratkan tes tambahan ya. Ini ada enaknya ada enggaknya. Nanti bakal diceritain lebih lanjut deh ya di postingan selanjutnya.

Nah, kalo udah punya itu semua, tinggal daftar deh. Oh ya jangan lupa sih syarat berkas-berkas lanjutan kayak surat rekomendasi dari dua orang dosen atau atasan, surat keterangan sehat dari puskemas atau RS, plus rencana pendaftar pasca lulus. Info lebih lanjut bisa kunjungi situs um.ugm.ac.id ya...

Oke, sekian dulu. Akan berlanjut di cerita berbagai kerempongan saya dalam menyiapkan semua persyaratan tersebu, hihihi.

Sampai jumpa......!




Dulu, ketika employment pass aa' di-reject sama MOM (Ministry of Manpower) Singapura, saya sempat bertanya-tanya kenapa. Namun setelahnya saya sadar, itu cara Allah memberi tahu kami bahwa kami mempunyai teman-teman yang luar biasa di sana (Singapura), yang mau dimintai tolong, meminjamkan hartanya untuk biaya hidup kami sampai aa' apply kerja dan di-approve EP-nya. Yap, dan benar saja dipenghujung kepasrahan saya tiba-tiba saja aa' dapet panggilan kerja lagi, dan setelah melewati drama sempat dimarahin sama pihak imigrasi karena terlalu lama berada di Singapur dengan visit pass, toh akhirnya masalah peng-approve-an EP beres juga (dan Alhamdulillah kami juga berhasil mengembalikan semua yang kami pinjam kepada saudara-saudara kami itu sedikit demi sedikit).

Dulu, ketika kena 'teror' sama loan shark gegara utang yang dimiliki owner HDB yang kami tempatin, saya sempat ngebatin, ko ada-ada aja ya? :D, tapi sekarang saya menyadari Allah tuh mau nunjukin pembelajaran berharga sama kami bahwa terlibat dengan yang namanya rentenir itu gak pernah enak sama sekali, bikin strees, dan bikin senewen, hahaha (padahal itu bukan kami yang berutang, tapi tetep senewennya sama).

Dulu, ketika gagal (belum diterima) kerja di salah satu sekolah bergengsi di Jakarta saya sempet kecewa, bahkan jadi merendah, emang gw sejelek ini ye ampe gak keterima di itu sekolah? Namun, kemudian saya sadar kalo Allah tuh emang nyurus saya buat ga LDR-an sama suami. Biar bisa ngedampingin suami membangun usahanya di Jogja; Biar saya semakin belajar memperbaiki bahasa Inggris saya; dan juga biar saya gak stress menghadapi kemacetan di Jakarta :p.

Dan ketika sampai saat ini kami masih belum dikarunia keturunan, kini saya sadar, mungkin Allah emang ngasih waktu buat kami fokus dulu di cita-cita kami. Biar usahanya aa' (dan teman-teman founder lainnya) itu besar dulu, biar kami semakin banyak menambah bekal kami untuk menjadi orangtua, dan juga biar saya bisa nempuh pendidikan psikolog dulu. Insya Allah ini cuma penundaan Allah saja. Kelak pada saatnya, di waktu yang tepat dan terbaik kami bisa memiliki keturunan yang shalih dan shalihah. Yang penting ikhtiarnya dan juga doanya jalan teruuuuus.

DO YOUR BEST AND LET GOD DO THE REST 

Mohon doanya supaya kuliah saya berjalan lancar dan usaha suami saya (dan kawan-kawannya) juga semakin barakah dan berjaya :)



Saya sadar, betapapun saya bukan orang yang mudah berbicara di depan umum, bukan pula orang yang mudah membina rapport dengan orang yang baru ditemui

Saya juga bukan orang yang pintar dan runut dalam menulis, bukan pula seorang yang kreatif yang dapat menemukan ide dan menuliskannya dengan lancar....

Namun, meski begitu saya mau berusaha, mau belajar untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut
Demi sebuah pencapaian cita-cita, demi mengejar segala asa....

Semoga dipermudah semuanya, mumpung Ramadhan mari banyak-banyak berdoa

Do your best and let God do the rest


*Mohon doa untuk kelancaran tes tahap akhir tanggal 14 dan 15 Juli dalam perjuangan menjemput impian ini, semoga lancar semuanya dan yang terpenting hasilnya sesuai dengan keinginan saya dan keridhoan Allah tentunya :)



Kali ini saya mau ngasih apresiasi buat diri sendiri karena udah:

1. Mandi sehabis sholat subuh (harusnya sebelum yak, tapi gak apa, haha)
2. Masak nasi pagi-pagi
3. Belajar sampe jam enam pagi
-istirahat 15 menit-
4. Mulai bikin sayur sop (tahu) buat sarapan dan bekel saya (kebetulan aa' terlanjur pesen katering di sebelah kantornya)
5. Goreng ikan tuna ditepungin sambil multitasking bikin jus mix strawberry dan apel
6. Nyiap-nyiapin buat sarapan dan bawa bekel
7. Sarapan dengan porsi lumayan ditambah ngabisin jusnya (biasanya saya cukup kalo minum jus aja).

Alhamdulillah aktivitas tersebut ternyata ngebawa mood happy sampe sekarang.

Semoga tetep istiqomah dan gak males-malesan lagi buat mengerjakan sederet aktivitas itu di pagi hari.

Prok..prok...wush... buat diri sendiri :D
Prok..prok..prok..wusssh!

Jadi ya ceritanya hari minggu kemarin, tanggal 4 Mei, saya nemenin Risma (temen satu universitas) wisata kota di Jogja. Sebenernya saya juga belum pernah menjelajahi tempat-tempat di kota jogja sih, makannya sebelumnya saya disclaimer duluan sama Risma kalo saya juga gak tau-tau amat tentang Jogja, jadi harus siap nyasar :p.

Nah hari itu janjianlah kami untuk ketemuan di halte Transjogja Malioboro 2. Yup kali ini kami akan ngebolang dengan berjalan kaki, mbecak, dan transjogja. Tempat-tempat tujuan kami adalah:
1. Lumpia di depan hotel Mutiara yang katanya enak banget
2. (museum) Benteng Vedeburg
3. (mbecak) ke Taman Sari
4. Raminten yang di Kotabaru (tempat makan terkenal di Jogja)
5. Museum Affandi (Jalan Solo)

Destinasi pertama gagal karena mas lumpianya belum buka, haha. Mulailah kami berjalan menyusuri jalan Malioboro untuk pergi ke Vedeburg. Di sini si penjual tiket sempet ngecein (becandain) saya. Dibilangnya harga tiket masuknya 20.000, eh gak taunya cuma 2000, hahaha.

Fotonya gantian jadi ga ada foto berdua sama Risma, haha

Vedeburg sendiri berisi bermacam diorama-diorama dari mulai masa pra-kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, Bagus banget buat belajar sejarah. Akan tetapi sayangnya tempatnya panas, huhu. Kenapa? Masalahnya desain bangunannya itu tertutup dan memang di desain untuk ruangan AC, tapi ya itu, ACnya dimatiin, hahahaha.

Setelah mengelilingi Vedeburg akhirnya kami menuju pangkalan bapak becak untuk pergi ke Taman Sari. Saya coba menawar pake bahasa jawa, dan ternyata saya berhasil sepenuhnya make bahasa jawa, hahaha. Lumayan, dari yang tadinya tarif 20.000 ke taman sari jadi 15.000 saja.

Mulailah kami menaiki mbecak untuk menuju Taman Sari. Si bapak mbecak menawarkan kami terlebih dahulu untuk mampir ke tempat membeli oleh-oleh. Tapi karena Risma udah beli baju, jadinya kami langsung menuju Taman Sari.

Nah di Taman Sari ini kami sempet bingung, yang mana sih sebenernya tempat wisatanya, hahahaha. Masalahnya Taman Sarinya itu bercampur sama pemukiman warga, udah gitu kagak ada tanda atau papan petunjuk arahnya. Mulailah kami nanya-nanya dan sok-sok-an ngikutin orang-orang yang ada di sana. Oh dan ternyata ketemu situs masjid bawah air. Saya jujur baru tahu ternyata bangunan yang saya kira selama ini adalah taman air di dalam gua ternyata masjid. Diam-diam kami mengikuti seorang guide yang sedang menjelaskan asal usul taman sari. Sayang banget di Taman Sarinya sendiri gak ada penjelasan detailnya, jadinya ya gitu deh banyak orang yang ga tahu kegunaan tiap struktur di dalamnya. Ada yang berguna untuk menahan gempa, jadi sumur tempat wudhu, lantai sholat yang diluarnya ternyata dikelilingi air, dsb.
diambil dari: http://travel.detik.com/read/2012/05/25/173214/1925010/1025/syahdunya-masjid-bawah-tanah-di-taman-sari-yogya
Setelah puas ngunjungin situs masjid tersebut yang gak terawat dengan baik (masalahnya kami sempat mencium bau kotoran unggas di sana), kami balik lagi ke pangkalan abang becak. Iya kami gak berhasil nemuin tempat pemandian keratonnya, haha. Karena udah panas dan males juga akhirnya diputuskan untuk langsun ke Raminten saja. Saya tetap menawar pake bahasa jawa, tapi ternyata tarif pulang itu lebih mahal soalnya jalannya nanjak. Jadi kami kena 20.000 untuk sampai menuju halte transjogja di taman pintar. Dalam perjalanan kami (risma tepatnya) mampir dulu untuk membeli oleh-oleh.

Ini yang gak berhasil kita temuin. Gambar diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/File:Jogjakarta,_January_2007.jpg

Tibalah di halte transjogja sisi taman pintar (atau halte senopati 2). Nah, untuk menuju ke Raminten kami menaiki transjogja jalur 2A sampai halte smp 5, kemudian dilanjutkan bus jalur 3A turun cuma satu halte setelahnya. Tarifnya hanya 3000 rupiah saja loh. Alhamdulillah kemarin ga sampe nunggu lama di haltenya. Biasanya saya bisa nunggu ampe hampir setengah jam soalnya, hahaha.

gambar diambil dari: http://www.yogyes.com/en/places/650/place.jpg

Nah di Raminten ini suasananya agak seru mistis gimana gitu.

logo raminten
 Mau tau cerita selengkapnya,  nantikan cerita selanjutnya ya....

Setelah episode kegalauan geje kemarin akhirnya saya udah mulai bisa lebih rileks, hehe. Kenapa gitu tiba-tiba? Ini buah dari silaturahim ke blog orang (tuuuh, bahkan silaturahim di rumah dumay juga ada rezekinya tersendiri).

Sekarang pengin coba lebih pasrah, lebih ikhlas, dan lebih ikhtiar agar saya bisa memutuskan segala keputusan yang terbaik. Cita-cita pengin diriin enrichment centre, entah itu buat bayi, toddler, atau children sekalian alhamdulillah semakin mantap. Tinggal cari ilmuya, ngumpulin modalnya, rencanain, dan eksekusi. Insya Allah semoga di jarak kurang atau sama dengan dari lima tahun bisa terwujud semuanya.

Terus juga mulai mikirin tentang kelanjutan berkunjung ke dokter buat program hamil. Sepertinya orangtua sudah mulai gemes sama kami yang keknya masih nyantai-nyantai aja (padahal mah ya.... (isi sendiri).

Oke, Bismillah. Semoga semuanya berjalan lancaaarrr.... aamiin. :)

Hari ini kami sudah motoran keluar rumah, lengkap dengan masker, jaket, dan helm yang tertutup. Terlihat masyarakat sudah mulai membersihkan debu dari hujan abu vulkanik kemarin. Karena ketebalan debunya maka membersihkannya pun harus menggunakan sekop.

Jalan raya sebagian besar sudah mulai dibersihkan. Tapi tumpukkan debu abu vulkanik masih ada di sisi kiri dan kanan jalan. Genteng-genteng bangunan juga masih berselimut debu tebal, pun padi dan pepohonan.

Udara di jalanan jelas masih membuat sesak. Debu-debu berterbangan berbanding lurus dengan kecepatan kendaraan yang melewatinya. Jika ada mobil berkecepatan tinggi maka wuss..wuss, seketika suasana jadi mirip di film "Silent Hill".

Saya yang baru pertama kali mengalami suasana ini tiba-tiba saja meneteskan air mata. Allah, betapa kuasaMu sungguh besar. Baru satu gunung yang menunaikan hajatnya di Pulau Jawa ini, dan dampaknya bisa seperti ini. Sungguh, manusia itu kecil gak ada apa-apanya.

"Rabbana; atas segala musibah, sesak dada, airmata, jangan halangi alir pahalanya. Ganti tuk kami dari perbendaharaanMu duhai Dzat Maha Kaya.

Kita insyaaLlah lebih mampu bersabar; dengan melatih kesyukuran. Sebagaimana musibah menjadi ringan; ketika besarnya nikmat direnungkan..

Segala puji bagi Allah yang dengan musibah ini menerbitkan harap tinggi; bahwa bangsa & ummat ini kukuh saling mencintai." -Salim A Fillah-

Semoga para penyintas di sekitaran, baik di Gn. Kelud maupun di Gn.Sinabung selalu diberikan pundak yang kuat olehNya.




sumber: 


Alhamdulillah, jadi ceritanya tanggal 5 Februari kemarin merupakan hari ulang tahun pernikahan saya dan A' Delta yang ketiga. Gak kerasa udah tiga tahun berumah tangga, banyak suka duka yang sudah kami jalani bersama. Kalo "kado" ulangtahun pernikahan pertama kami main-main ke Universal Studio, tahun kedua kami sowan ke Bali, maka tahun ini kami ngendon di Jogja saja. Tapi kali ini saya meminta aa' (dan juga saya) untuk merefleksikan tiga tahun pernikahan kami dengan membuat SURAT.

Dan ternyata meskipun seperti "dipaksa", Aa' berhasil ngebuat saya mewek dengan suratnya itu, heu. Buat saya mikir tentang potensi saya, dan buat saya semangat untuk berjuang memperjuangkan cita-cita kami.

Saya gak akan nge-share semua suratnya kali ini, ini cuplikan-cuplikannya saja ya. Terima kasih Allah atas tiga tahun perjalanan ini :"). Semoga tahun-tahunnya akan semakin bertambah, begitu pula dengan nikmat-nikmatnya.

Kalimat Aa' yang bikin saya nyess (dan maaf kalo saya jadi narsis, hihihi)...

....

Selain aa' belajar banyak, sebaliknya tentunya aa' juga berharap banyak dari adek. Aa' ingin kita benar-benar berkembang bersama, tumbuh bersama, mendewasa bersama. Selama 3 tahun kita bersama, Aa' semakin hari semakin yakin banget kalo adek itu potensinya luarrrrr biasa. Dan menariknya potensi ini dimensinya berbeda sama potensi yang aa' tekuni.

Aa' ngeliat adek itu sebagai wanita yang sangat pintar sayang. Kalo mikir cepat banget, kalo pada saat-saat penting bisa sangat tenang dalam membuat keputusan dan bersikap. Adek juga sangat skillful dan berani dalam memasak, cepat, dan bisa come out dengan sesuatu yang baru dengan modal kira-kira. Dan yang paling utama, Aa' ngelihat skill adek dengan anak kecil itu real sekali. Bener-bener keren kalo udah ngeliat adek ngedongeng, bermain, ngajarin, atau sekedar ngajak ngobrol anak-anak.

Sayangnya potensi ini seringkali masih tertutup gerhana sayang. Gerhananya namanya "fear". Takut salah, takut kalah, takut dimarahi, takut ada yang memusuhi, takut rugi dan takut-takut lainnya. Jujur saja aa' juga punya banyak rasa takut ini sayang. Aa' prinsipnya ketika sesuatu memenuhi 3 hal: Ini hal yang ketika aa' niatkan ibadah aa' dapat pahala, Ini hal yang aa' sukai, aa' punya adek, teman dan keluarga yang mendukung aa' dalam melakukan sesuatu ini. Maka setakut apapun harus berani menjalani sesuatu itu. Makanya aa' baru berani berbisnis setelah menikah sama adek :D.

Ayo sayang, fokus menggapai mimpi kita. Adek fokus untuk punya child care sendiri dan jadi expert di perkembangan anak usia dini, sementara aa' fokus di entrepreneurship. Dan tentunya kita juga fokus menjadi orang tua yang baik dengan jundi-jundi yang banyak dan menggetarkan dunia. Jangan takut selama mimpi kita ini sesuatu yang merupakan ibadah kepada Allah. Jangan takut karena ini sesuatu yang kita sukai sayang. dan Jangan takut karena kita akan saling mendukung sayang. I will support you, and I know you will support me too.
I love you sayang..

Bener banget. Keknya saya masih harus berjuang untuk menaklukkan "fear" saya nih. Dan saya cuma bisa bilang, terima kasih, terima kasih, terima kasih....

Terima kasih ya A’ atas tiga tahun yang telah kita jalani bersama. Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik banget bagi adek, padahal adek sendiri merasa belum jadi istri yang baik bagi Aa’.. Terima kasih karena telah menjadi motivator sekaligus kritikus utama buat adek. Aa’ yang selalu nerima segala macam tingkah polah adek. Aa’ yang gak pernah protes kalo adek tidur melebihi waktu yang telah kita sepakati, padahal kalo aa’ yang kayak gitu adek mah udah mesem-mesem kesel :D. Aa’ yang selalu siap sedia memenuhi segala permintaan dan kebutuhan adek. Memahami segala kekurangan adek, dan mencoba untuk menguatkan sisi-sisi kerapuhan adek. Aa’ yang percaya bahwa adek akan selalu mampu melalui perjuangan demi pencapaian cita-cita kita. Terima kasih sekali lagi karena Aa’ telah bersedia percaya dan memilih adek untuk menjadi pendamping hidup Aa’.

Semoga barakah selalu tercurah untuk kehidupan rumah tangga kita ya, A’. Semoga Allah selalu menguatkan pundak kita untuk menghadapi segala tantangan dalam kehidupan pernikahan ini. Dan tentunya semoga Allah berkenan untuk mengumpulkan kita selalu dalam sebuah ikatan pernikahan sampai JannahNya kelak.


Mohon doanya selalu untuk keberkahan dan kelanggengan pernikahan kami, dan tentu saja mohon doa supaya kami bisa dipercaya dengan amanah keturunan-keturunan shalih-shalihah yang kelak akan menjadi penyejuk hati kami.

Semoga bagi yang mendoakan, yang sudah menikah doanya berbalik kepada keluarganya, yang belum menikah semoga segara dipertemukan oleh belahan jiwanya ^_^. Aamiin ya Rabbal'Alamin.
Jadi ceritanya saya baru saja melewati yang namanya episode keracunan makanan (at least begitu sih diagnosa dokternya).

Jumat malam di tepat seminggu yang lalu, badan saya mendadak panas dan pusing. Kalo udah kayak gitu saya gak nafsu makan, alhasil cuma ngandelin susu "bear brand" dan sari roti, tapi malam itu saya cuma minum susu.

Peningkatan pusing tiba-tiba terjadi sekitaran pukul 9. Shalat Isya waktu itu saya jalani juga dengan sambil tiduran sangking pusingnya. Tidak hanya pusing, saya juga mulai muntah-muntah. . Gak kehitung berapa kali saya muntah, setiap jam pokoknya ada dua-tiga kali saya rutin ke kamar mandi. Ditambah kepala yang udah kayak mau "pecah", saya rasanya melayang. Tidur juga malah tambah pusing. Saya belingsatan gonta-ganti posisi, waktu itu bahkan sempet tidur dalam keadaan duduk. Mana suami juga lagi demam, dicurhatin ya tetep aja sukses bobo lagi (hmm, ga tau juga sih kalo ga lagi sakit apakah tetep begitu, hihi). Walhasil saya cuma bisa nangis, bener-bener nangis, terus manggil-manggil ibu (nah dikondisi ini suami saya kebangun gara-gara ngedenger saya nangis).

Akhirnya karena udah gak tahannya, saya paksain makan roti terus nyari-nyari panadol dan ternyata ada. Saya paksain makan 3 suap roti, langsung buru-buru minum tuh panadol. Bisa ditebak saya langsung muntah. Tapi Alhamdulillah saya kemudian mulai berangsur-angsur tidur (saat itu pukul 3 pagi).

Karena baru tidur pukul 3, walhasil kami bablas sholat subuh, waktu itu jam 5 lewat (hampir setengah 6 apa ya). Sediih karena jadinya bablas, tapi seneng karena akhirnya saya bisa tidur.

Paginya saya mulai kelaparan. Saya coba minum teh dulu untuk penambah tenaga, dan beberapa menit kemudian tehnya juga sukses dikeluarkan lagi. Akhirnya saya minta suami saya untuk ngupasin melon, dan Alhamdulillah saya berhasil menghabiskan melon setengah piring.

Abis sarapan, karena ngantuk kami akhirnya ketiduran (padahal niatnya mau ke dokter). Baru abis dzuhur akhirnya kami pergi ke RS. Padahal baru jalan sebentar, tapi saya udah lemes dan mual lagi. Divonis dokter keracunan makanan, dan ditanyain tiga hari terakhir makan apa. Ternyata kata dokternya efek keacunan itu bisa langsung atau terjeda. Saya gak inget blas tiga hari kemarin makan apa, lah itu kan waktu dimana keluarga besar aa' lagi pada dateng dan waktunya saya jalan ke solo. Di saat itu juga saya mulai beli makan siang rutin di warteg deket kantor. Walhasil faktor pemicu keracunannya jadi gak terdeteksi.

Mungkin ya mungkin, di saat kondisi saya yang emang lagi drop (bolak-balik solo bahkan sempet ujan-ujanan juga), saya pas makan panganan yang gak bersih, walhasil begitu deh jadinya.

Pelajaran banget nih buat saya untuk pilih-pilih makanan yang dimakan. Dan pelajaran banget bahwa sesederhana apapun bekel yang dibawa dari rumah, dan secapek apapun saya mesti tetep bawa bekel.

Oke deh segitu aja sharing-sharingnya. Mudah-mudahan episode keracunan ini merupakan yang pertama dan terakhir ya.


^___^
Holla, hari ini masuk kerja lagi setelah 5 hari libur. Masih suasana liburan, makannya biar gak ngantuk aye mau nulis blog dulu bentar.

Yap, kali ini mau cerita hal yang berkaitan dengan husnudzon. Jadi gini, waktu saya di Singapur, saya punya guru ngaji, sebut saja Uni. Nah Uni ini nih ternyata dalam masa pernikahannya hampir selama 12 tahun menanti keturunan. Saya gak tau ya permasalahan beliau apa (apa ada masalah di pihak istri maupun suami), tapi yang jelas selama masa penantiannya ini beliau tetap optimis dan semakin mencemerlangkan diri di tahun-tahun penantiannya.

Selama masa penantiannya ini, dimana saat mereka harus tinggal di Singapur (dan pernah juga di Jerman), Uni ini menimba ilmu Al-Qur'an. Ngambil sertifikasi, belajar ilmu tajwid, dan juga dapet sanad langsung yang bersambung ke Rasulullah (tentang bacaan Al-Qur'an). Jangan tanya bacaannya ya, Masya Allah bagus banget. Saya nih yang ngerasa bacaannya udah lumayan aja, kalo pas sparing partner hafalan pastiiii banyaak salahnya, makhrojnya ga bener lah, bacaannya kurang panjang lah. Padahal saya di sana juga udah dapet satu sertifikat loh, jadi guru ngaji, haha.

Suaranya juga merdu, dan beliau nampaknya orangnya sabar sekali. Dan saya pikir pasti tingkat kepasrahan Uni dan kehusnudzonannya sama Allah itu udah baaaiiiik sekali. Makannya setelah proses panjang penantian (cek ini-itu, dua kali inseminasi), akhirnya pada proses bayi tabung yang dilakukan di KK (kandang Kerbau) Hospital, dengan izin Allah, beliau saat ini sudah memiliki sepasang malaikat kecil, yaitu shalih dan shalihah. Sekarang umur shalih dan shalihah sudah satu tahun lebih, dan baru-baru ini saya juga dapet kabar kalo si Uni tengah hamil lagi, Masya Allah kan.... :")

Semoga saya bisa mencontoh Uni untuk selalu bersabar, berhusnudzon, dan mencemerlangkan diri dalam proses penantian dan perjuangan mendapatkan buah hati (kami).

Entah kenapa ya perasaan iri atau sedih karena belum mendapatkan buah hati itu selalu menyelesap dan parah di waktu-waktu tertentu. Manusiawi kan ya? tapi semoga saya (kami lebih tepatnya), bisa melalui dan mencapai (mendapatkan buah hati) ini dengan "khusnul khotimah".

Semangat mencemerlangkan diri di tahun 2014!


Mohon doa selalu ya teman-teman :")
Baru tadi pagi ngepost tentang kacaunya periode menstruasi, siang ini "dianya" udah keluar (artinya kami masih harus berjuang dan berikhtiar lagi agar saya bisa hamil). Kecewa? Jelas, ini malah rasanya jadi galau penging nangis, huhuhuhuhu.

Kalo kata sahabat saya, Dea Adhicita, gak apa nangis gegulingan, jambak-jambak rambut, teriak-teriak gak karuan, ASAL balik tangguh dan waras lagi, hehe.

Oke saya mau bermelow-melow dulu, biar nanti pas kumpul keluarga besar (suami) di acara ulang tahun mamah mertua di Jogja dan Solo, saya biar bisa lebih siap dan tangguh (yakin lo, Put?). Eh bisa ga ya? Aaaaaah jadi tambah galaaaaaauuuuu.......... T_T
Duluuuuu sebelum menikah rasa-rasanya periode menstruasi saya itu selalu tepat 28-29 hari. Sekarang kacaunya ampun-ampunan. Rangenya bisa dibilang jauh, periode tercepat 27 hari, sedangkan terlama bisa 32 hari. Gak tau apa karena stress atau kenapa, tapi pas cek ke dokter sih Alhamdulillah belum gak ditemukan masalah yang berarti.

Kalo kayak gini jadi bingung, mau GR duluan, hahaha ya tapi ga bisa juga. Jadilah ini setiap bulan si periode ini suka PHP-in saya.

Mana ya kalo lagi mau PMS, saya ini suka pusing, mual, dan muntah. Ini macam kayak hamil palsu gitu deh sindromnya, huhu (maunya yang beneran ya Allah ;) ).

Oke deh sekian curahan pagi ini soal periode menstruasi.

Oh ya kalo pun saya insya Allah diberikan kesempatan untuk hamil, saya maunya ngupdate kabarnya di blog aja ah, biar lebih senang dan tenang.

Mari kembali bekerja (padahal bos juga gak masuk jadi kerja santaiiiiii bangeeet, maklum besok kan pada mau natalan ini *tapi saya gak natalan yeee)
Saya dan suami punya cita-cita ngebuat perpus khusus anak-anak. Terinspirasi saat tinggal di Singapura, dimana yang namanya "library" di sana itu menjadi salah satu tempat favorit bagi anak-anak saat weekend bahkan saat weekdays. Gimana ga mau "betah" wong tempatnya super duper nyaman dan enak banget. Dan biasanya "Library" ini akan dihias berdasarkan tema tiap ada "event" tertentu. Ini salah satu dekorasi saat liburan sekolah tiba di National Library Singapore di daerah Bugis. (gambar diambil dari sini)













Gimana gak betah anak-anak coba kalo perpustakaannya kek gini? Pengin banget buat yang seperti ini di Jogja. Doakan ya semoga bisa terwujud :")


Penting gak penting yang penting nge-blog. Beginilah suasana kalo saya lagi nemenin aa' ngoding di kantor. Ini saya abis pulang kerja langsung ke sini donk ya. Kalo udah ngoding, aa' suka  lupa  keasyikan sampai-sampai nanti tau-tau udah jam sepuluh aja.

Kamu ngapain donk? biasanya sih ya saya nonton TV, browsing youtube, nge-blog (seperti yang saya lakukan saat ini), atau tidur.

*Dadah-dadah sama cucian dan setrikaan yang udah mulai menggunung, hihi

Ipad vs Thinkpad :D
Assalamu'alaikum, everyone...

Today I will writing in English.

Why are you using English, Puti?

It because, today I didn't go to EF because of rain, huhu.

Let's start. Bisamillahirrahmanirrahim.

Same as the tittle, I will write about my friends at EF. It because this week we still learn about how to describe person.

First, I will introduce my teacher, Ms.Christine.
Ms. Christine comes from Switzerland. She is quite tall, but I think a little bit short than average people from Europe. She has a blonde hair, long blonde hair. Her eyes is brown. She has bracket in her teeth. I think she is a little overweight, ups sorry, Ms, but she still beautiful. Ms. Chris is funny person, because when she was teaching, she looks really enjoy and usually use an easy way to teach. I like Ms. Christine's teaching. I hope Ms. Christine will teach us in the next term.

Second, Dhisma.
Dhisma, the fashionable girl. I think she's around 18 years old. She is tall and has good figure (I mean proportional body). She is a model, it's a reason why she has a proportional body. Her eyes is black I think, I'm not really sure about that. Actually she is a ronin students, then she still try to go to public university. She is very organized when she talks. And she is also beautiful.

Third, Ay
Ay is second years student from UGM. She wears hijab. She's a little bit tall than me. She skinny, but has a fit body. Her eyes is black. She usually wear jeans and T'Shirt. She usually drives a motorcycle to go to EF from her university, but sometimes she drives a car.

Fourth. Wilma
She is 13 years old, the youngest in my class. She is a pianist, she has participated in some piano competition. She is a little overweight, but quite tall (it means she is taller than me :p). She has a curly hair. She is Chinese. And she still looks like a teenager.

Fifth, Julio
Julio is a men. He comes from Papua. He is a university student from Atmajaya. He's funny person. He quite tall and his figure is good. He has curly hair, but not really. His skin is tanned. He likes laughing.

I think is enough. But I still have another six friends. I too lazy to write now.

Oke. Enough for this article. May be I will continue later.
Bye-bye. Have a good night everbody :)




Jadi ceritanya si Viega Namira, teman kuliah saya di psiko, mau main ke Jogja tiga minggu yang lalu (tanggal 7 kalo ga salah). Tadinya saya cuma mau ketemuan aja gitu sama dia dan juga Sandra Lukita. Tapi ga taunya malah diajak sekalian buat cave tubing di Goa Pindul.

Awalnya sih kami cuma berangkat ber-6, Saya dan suami, Viega, Sandra, serta dua orang teman SMA Viega (Dita dan Hari). Rencananya juga a' Delta yang bakal nyetir mobilnya. Eh tapi ternyata pas kumpul di asrama Bawakaraeng, ada dua orang temennya Viega yang berasal dari Sulawesi, yaitu Amink dan Furqon, yang akhirnya ikut. Dua anak "ajaib" tapi super baik. Si Viega kenal sama mereka juga berkat kegiatan naik gunung, tapi kenalnya juga karena Amink itu temennya temennya Viega, nah bingung kan? haha. Meskipun cuma hasil kenalan-kenalan, tapi sumpah tuh anak berdua baik banget. Saya jadi belajar bahwa perjalanan travelling itu bener-bener salah satu cara yang efektif untuk menambah daftar teman baik. Nah berhubung si Amink yang mengurus semua-muanya (tuh kurang baik apa coba die), jadi si Amink deh yang nyetir  pertama-tama di perjalanan menuju Goa Pindul, namun di tengah perjalanan, karena dia ngantuk, akhirnya gantian sama a' Delta.

Setelah melalui perjalanan yang mendebarkan (karena jalanannya berkelok dan a' Delta kadang juga ngebut, hihi), akhirnya kami berhenti tiba-tiba karena  tulisan "info wisata Goa Pindul". Kirain mah itu ya tempatnya udah deket, gak taunya itu semacam "guide" yang akan menunjukkan letak Goa Pindul dan minta bayaran atas jasanya. Karena sudah terlanjur berhenti mendadak (ini agak mendebarkan juga karena tepat di belakangnya bus besar langsung nglakson kenceng :p), yaudah akhirnya make jasa nih "guide". Lumayan sih kita ditunjukkin jalan lewat jalur alternatif, jadinya ga usah bermacet ria. Kita bayar sebesar 15ribu. Tadinya dipikir mahal gitu ya, tapi setelah ngeliat jaraknya yang jauh, itu mah harganya mayan murah lah. Oh ya "guide" dadakan ini ternyata ada di sepanjang perjalanan menuju Goa Pindul loh. Jadi, hati-hati aja terjebak sama "siasat" mereka ya, hehe.

Sampailah di Goa Pindul. Karena long weekend pengunjungnya jadi banyaaaaaak banget. Antriannya panjang. Kite aja nih buat cave tubing kira-kira ngantrinya sampai 3 jam, hahahaha. Padahal mah di goa-nya sendiri cuma 45 menit.

Untungnya si Amink dan Furqon ngebeliin paket river tubing sekalian (dengan harga mahasiswa karena mereka emang masih mahasiswa), so gak nyesel-nyesel banget antri 3 jam cuma buat gitu doank.

Dan ternyataaa, river tubing di Kali Oyo emang lebih menyenangkan dibanding cave tubing Goa Pindul. Ga rame, kalinya juga jerniih, dan pemandangannya indah. Bener-bener refreshing banget pas ini. Di tengah jalan kita akan menemui air terjun dan bisa lompat ke sungai kalo mau, sayangnya saya ga berani, hihi.

Nah karena berburu ngejar waktu ashar, saya dan a' Delta memutuskan untuk ikut rombongan pertama (selesainya cepet maksudnya). Jadi rombongan kami yang berjumlah 21 (gabungan dari orang lain) dipecah menjadi dua. Karena kami gak bisa jamak sholatnya, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi main-main di kali oyo. Meskipun menyudahi awal, ternyata waktu buat balik ke base camp  Panca Wisata udah mepet banget. Walhasil kami "terpaksa" ngambil wudhu di kali dan sholat di tepi sawah dengan keadaan pakaian yang basah, dengan pelampung sebagai sajadahnya. Sensasinya? dingiiiiiin, hahaha. Tapi bener-bener pengalaman yang gak akan pernah terlupakan. Mungkin karena di Singapura terbiasa sholat di mana saja (di pojokkan bandara, bawah tangga darurat, bahkan pernah di tengah bukit Botanical Garden), jadi kami fine-fine aja sih, hihi.

Oh ya, yang saya suka dari wisata Goa Pindul ini, ternyata pengelolaannya itu bener-bener masyarakatnya sendiri yang mengelola. Di tambah ya di sana sangat ditekankan azas kejujuran. Jadi misalnya di tengah air terjun ada yang jualan pop mie, tapi bayarnya boleh nanti aja di base camp. Kalo mau ke toilet juga cuma tersedia kotak dan daftar harga yang harus di bayar. Di kantinnya juga bisa bayarnya nanti. Jadi ceritanya karena kami balik duluan dengan keadaan kedinginan sementara tas ada di mobil yang kuncinya juga ga ada sama kami, walhasil kami ngutang dulu di warung deket base camp buat dua mangkok indomie dan teh anget. Dibolehin aja gitu, padahal kan sebenernya bisa aja kabur, hahaha.

Oke deh segitu dulu ceritanya. Ini ada hasil jepretan dari kamera temen-temen.

nunggu antrian sambil nunggu makan siang dateng

pose di depan base camp Panca Wisata
nunggu antrian masuk Goa

pose di depan Goa Pindul (sayang hasilnya burem karena dibungkus plastik)
pose berdua
pose lagi


mulai masuk Goa

river tubing

makan malam di bukit bintang :)







OlderStories Home