Kemarin-kemarin sempat berpikir mengenai beberapa rencana yang akan kami (atau lebih tepatnya saya) laksanakan di tahun depan. Nah sebelumnya mau nge-list dulu beberapa rencana yang insya Allah mau dieksekusi:

1. Saya kuliah lagi di UGM.
Ya, rencananya saya mau nerusin kuliah lagi. Penginnya ngambil profesi pendidikan atau "hanya" magister pendidikan di UGM. Setelah ngobrol-ngobrol sama Sandra soal budaya belajar plus dosen-dosennya di UGM, rasanya tidak seseram yang saya bayangkan, hihi.

2. Tetep nerusin les Bahasa Inggris di EF
Saya suka lingkungan belajarnya, ditambah guru-guru native-nya yang baik-baik. At-least ini langkah terakhir yang memaksa saya untuk tetap "menjaga" dan memaksa saya berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Habisnya kalo ngomong Inggris sama suami tiap hari jumat, saya lupa melulu dan malah kagok, hihi. Beda kalo ngomong sama Ms. Christine :).

3. Beli kendaraan sendiri (milik berdua maksudnya)
Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya soal transportasi di Jogja, maka adalah sebuah keharusan untuk memiliki kendaraan sendiri (sejauh ini kami masih minjem punya mbak Anik, kakaknya a' delta yang punya 3 buah motor, hihi (jadi motornya emang nganggur). Mau beli motor atau mobil kecil, tentunya hal itu amat sangat bergantung dari income tahun depan. Namun feeling yang kami rasakan, insya Allah roda empat-lah yang akan menjadi "keluarga baru" kami, hehe. *Aamiin yang kenceng.

4. Memulai program hamil di Sardjito
Ini yang paling menjadi fokus kami di tahun depan. Rasanya memang sudah saatnya kami bener-bener melakukan ikhtiar melalui jalur medis. Alhamdulillah di Sardjito ada klinik permata hati, seperti klinik Yasmin di RSCM. Insya Allah dokternya juga gak kalah mumpuni dari dokter-dokter Cipto. Terlebih harga programnya relatih "sedikit" lebih murah dari Cipto. Nah, untuk program ini saya juga harus menyiapkan mental untuk berhadapan dengan dokter kandungan yang semuanya laki-laki, huhu.

5. Pake Bracket
Mengingat gigi saya yang berantakan, walhasil ini juga rencana yang sudah lama saya targetkan. Pasang bracket di Jogja dengan ahli ortho ternyata memang lebih murah dibanding di Jakarta. Kalo di Jakarta bisa mulai dari 7.500.000, maka di Jogja harganya "hanya" mulai dari 4.500.000.


Itulah kelima rencana yang saya ingin laksanakan dalam waktu dekat ini. Namun mengingat "budget" dan "waktu" yang cukup banyak akan tersita, sepertinya saya harus memilah mana yang lebih prioritas untuk didahulukan. Maka sepertinya inilah yang akan saya (dan suami) rencanakan:

  • Memulai program hamil. Mengingat sepertinya memang sudah saatnya kami bener-bener fokus di sini. Insya Allah deposito yang ada di Sg bisa mengcover 50% dari biaya maksimal program di Sardjito. Tentunya berharap cukup hanya beberapa treatment yang harus dilakukan agar Allah (mengizinkan) mengaruniakan keturunan kepada kami :).
  • Tetap melanjutkan les di EF untuk melancarkan komunikasi bahasa Inggris saya.
  • Beli kendaraan pribadi, insya Allah tahun depan Allah mengaruniakan cukup rezeki untuk mengeksekusi rencana ini. 

Ya, sepertinya tiga program itulah yang menjadi fokus saya di tahun depan. Insya Allah saya tetap berkeinginan melanjutkan kuliah. Toh tidak ada batasan umur dalam menuntut ilmu kan, jadinya rencana satu ini masih bisa "disimpan" dahulu untuk dijalankan di waktu terbaik. Buat pasang bracket juga sepertinya bukan menjadi suatu prioritas untuk saat ini. Penampilan luar memang penting, tapi saat ini justru yang harus saya perbaiki adalah penampilan saya di "mata" Allah.

Kenapa saya menuliskan rencana-rencana ini di blog? Sungguh bukan bermaksud untuk "pamer" atau apapun, saya cuma berharap siapa-siapa yang membacanya turut mendoakan agar rencana-rencana ini bisa sukses tereksekusi, berjalan lancar, dan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan.

So, saya mohon dengan sangat untuk turut menyelipkan ini dalam doa teman-teman sekalian ya....

Oke segini dulu update-an saya. Oh ya, saya nulis ini saat kerjaan saya emang udah selesai loh ya (siap-siap minta kerjaan baru).

Wassalamu'alaikum..... ^__^





Tergerak karena beberapa postingan di news feed (termasuk postingan saya di blog), saya jadi pengin nulis tentang yang namanya empati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, empati berarti "keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yg sama dengan orang atau kelompok lain". Walaupun sebenernya menurut salah seorang dosen saya di psikologi, kita tidak benar-benar bisa merasakan empati, karena kita tidak pernah mengalami peristiwa persis seperti yang dihadapi oleh orang lain.

Terkadang dengan maksud ingin lebih mendekat atau melakukan basa basi, seringkali kita menanggalkan sisi keempatian kita. Misalnya dengan pertanyaan kapan nikah? kapan punya momongan? kapan kerja? dan sebagainya. Gara-gara gemesnya sama pertanyaan ini, seorang senior di UI, ka Pemi Ludi, sampai menulis status di Facebooknya seperti ini:

"pertanyaan "ko belum nikah?" itu semacam dengan "ko belum punya anak?" dan semacam juga dengan pertanyaan "ko belum mati?"

aqidah woy"


Nah kan,  jawaban pertanyaan seperti ini tentunya "yang ditanya ga lebih tau daripada yang nanya". Saya merasakannya juga karena saya masuk ke dalam orang yang sering ditanya "ko belum punya anak?". Jujur bingung juga ngejawabnya. Saya kan ga harus ngejawab dengan panjang lebar kalo ternyata memang butuh usaha lebih agar saya dan suami punya anak. Sampai saat ini kita masih mengusahakan yang terbaik ko, tapi kan memang butuh waktu, biaya, dan kesabaran lebih. So, pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang kadang bikin saya "males" dateng ke acara-acara kumpul-kumpul atau apapun.

Terlebih misalkan saat sedang curhat soal program hamil yang sedang direncanakan, tiba-tiba sang lawan bicara malah dengan semangat bilang kalo ia pengin nambah anak lagi dengan melepas alat kb yang sedang ia pakai. Entah karena karakter orangnya yang memang suka cerita atau ga paham meletakkan sisi empatinya, yang jelas respon tersebut justru membuat saya lebih "sakit" karena ia bisa dengan mudahnya menambah anak tanpa melalui "jalan" yang harus kami tempuh. Tau gitu mending gak usah cerita deh, :p.

Yang jelas, bagi saya teman yang baik justru teman yang "diam" ketika dicurhatin. Yang paham dengan kalimat I never use your shoes. Teman yang diam-diam mendoakan. Atau teman yang lebih "mendengar" ketimbang "berbicara".

Insya Allah saya yakin waktunya saya menjadi seorang ibu akan tiba. Allah sedang mempersiapkan kami untuk menjadi sebaik-baik orangtua. Ya, insya Allah waktunya akan tiba.... :)

So, mari menempatkan ke-empatian kita sebelum melayangkan pertanyaan, terlebih untuk hanya sekedar pertanyaan basa-basi :)



sumber: http://qualiaforlife.files.wordpress.com






“Basa-basi” atau sering pula disebut “pemanis percakapan”, dalam kondisi tertentu bisa menjadi basi sekali dan justeru pahit bagi orang lain. Jadi berhati-hatilah.

Meski niat kita baik, tulus, hendak mendoakan, tapi jenis pertanyaan seperti: “kapan menikah?”, “kok belum punya momongan?”, dan sejenisnya, bisa menyakiti lawan bicara kita. Tidak semua orang biasa-biasa saja, santai-santai saja menerima basa-basi itu. Ada banyak yang sedih, jengkel, marah, bosan mendengarnya. Mungkin hal ini bisa dipikirkan.

Tere Liye.

Be carefull, guys :)
NewerStories OlderStories Home