Oh meeen, ini lagi-lagi tulisan tentang apa yang sebenernya saya mau.

Sungguh, saya iri seiri-irinya sama pak suami yang udah nemu the real passion-nya, apalagi kalo bukan all about coding. Sedangkan saya? Ih saya masih belum jelas dan masih gegalauan sebenernya saya mau jadi apa sih di lima tahun mendatang?

Gegalauan ini juga jelas disponsori sama ketakutan-ketakuan yang menyelimuti saya ketika mau melangkah. Oooooh, meeen, iya bener saya suka anak-anak, dan pengin berkecimpung di dunia anak, tapi apa profesi saya sekarang? jadi editor buku pelajaran, which is ini sama sekali jelas gak mengasah kemampuan saya dalam dunia pendidikan anak usia dini.

Mau nerusin kuliah? Iya, mau, tapi karena faktor kegalauan dan kedudulan saya mengenai the real passion sayanya jadi ragu mau ngambil kuliah apa. Mau ambil profesi psikolog anak, etapi ngebayangin LDR itu pasti jadi tantangan besarnya, ditambah biayanya yang akan aduhai kalo saya kuliah di UI tercinta. Mau ambil jurusan terapan psikologi pendidikan anak usia dini, etapi sama kayak sebelumnya, LDR jadi tantangan besar, selain itu saya takut nanti gak bisa melangkah dan mengambil keputusan lebih jauh untuk mendirikan preschool pasca lulus nanti.

Jelas saya butuh melepaskan segala ketakutan-ketakutan yang jelas-jelas menghambat 'langkah' ke depan. Takut gagal, takut biayanya gak nyampe, takut gak fokus karena LDR, dan berbagai macam ketakutan lainnya.

Arrrghhh..... ini bener-bener mesti konsultasi beneran sama Sang Pemilik Kehidupan.
Doakan ya semoga keputusan terbaik dapat diambil, karena bulan maret dan april ini bisa jadi adalah masa-masa penentuan mau dibawa kemana langkah ini untuk lima tahun ke depan.


source: www.dwindown.com


Yiiipppiiii.....

Akhirnya ngeblog lagi.

#udahgituaja

Hari ini kami sudah motoran keluar rumah, lengkap dengan masker, jaket, dan helm yang tertutup. Terlihat masyarakat sudah mulai membersihkan debu dari hujan abu vulkanik kemarin. Karena ketebalan debunya maka membersihkannya pun harus menggunakan sekop.

Jalan raya sebagian besar sudah mulai dibersihkan. Tapi tumpukkan debu abu vulkanik masih ada di sisi kiri dan kanan jalan. Genteng-genteng bangunan juga masih berselimut debu tebal, pun padi dan pepohonan.

Udara di jalanan jelas masih membuat sesak. Debu-debu berterbangan berbanding lurus dengan kecepatan kendaraan yang melewatinya. Jika ada mobil berkecepatan tinggi maka wuss..wuss, seketika suasana jadi mirip di film "Silent Hill".

Saya yang baru pertama kali mengalami suasana ini tiba-tiba saja meneteskan air mata. Allah, betapa kuasaMu sungguh besar. Baru satu gunung yang menunaikan hajatnya di Pulau Jawa ini, dan dampaknya bisa seperti ini. Sungguh, manusia itu kecil gak ada apa-apanya.

"Rabbana; atas segala musibah, sesak dada, airmata, jangan halangi alir pahalanya. Ganti tuk kami dari perbendaharaanMu duhai Dzat Maha Kaya.

Kita insyaaLlah lebih mampu bersabar; dengan melatih kesyukuran. Sebagaimana musibah menjadi ringan; ketika besarnya nikmat direnungkan..

Segala puji bagi Allah yang dengan musibah ini menerbitkan harap tinggi; bahwa bangsa & ummat ini kukuh saling mencintai." -Salim A Fillah-

Semoga para penyintas di sekitaran, baik di Gn. Kelud maupun di Gn.Sinabung selalu diberikan pundak yang kuat olehNya.




sumber: 

NewerStories OlderStories Home