Hahaha, gak banget ya judulnya? Tapi ini serius, tiba-tiba gara-gara baca buku Feist & Feist lagi saya jadi kesengsem sama pemikiran Adler (dibanding Freud dan Jung, maklum baru tiga tokoh itu yang dibaca lagi :p).

Ga tau, rasanya pemikiran-pemikirannya itu asa 'nyambung' gitu sama apa yang saya juga pikirkan (clique gitu di hati ceritanya). Apalagi tentang pemikiran perlakuan terapinya terhadap anak dan orangtua, Adler berpendapat kalo ada masalah sama anaknya itu, orangtua jangan 'disalahin', tapi diterima keluh kesahnya dan didorong agar mereka mampu merubah perlakuannya terhadap anak. Selain hal tersebut, saya juga suka sama konsep social interest-nya. Salah satu pendapatnya Adler, manusia yang sehat secara psikologis adalah manusia yang memiliki minat sosial yang tinggi.

Udah sih mau cerita gitu aja, gak mau panjang lebar, hahaha. Tapi emang kebangetan ya saya, menyadari Adler itu keren malah pas udah lulus kuliah, dulu  kemane aje lo, Put? Kebanyakan baca 'handout' doang kali ye? Wkwkwkwk 

Ini saya kutip satu quote dari Adler
“Trust only movement. Life happens at the level of events, not of words. Trust movement.” 
― Alfred Adler

Ayo, untuk jadi sukses, mari kita beraksi (jangan kebanyakan omong doang ya). Mari belajar lagi!




Saya tak pernah tahu rasanya dijajah,
Maka saya tak bisa membayangkan nyeri yang melanda ketika rumah yang dibangun dengan susah payah dibuldoser dengan paksa; pergi dan terusir dari tanah kelahiran dan tak tahu lagi kemana harus melangkah.

Saya tak pernah tahu rasanya diblokade,
Maka saya tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya mencari air untuk melepaskan dahaga; menjelajahi pengapnya terowongan yang minim udara demi mengenyangkan keluarga; menyiasati penerangan dan pemanfaatan hanya dengan pasokan listrik yang seadanya.

Saya tak pernah tahu rasanya dibombardir,
Maka saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya mendengar dentuman bom yang jatuh bertubi-tubi; merasakan kerapuhan melihat hancurnya tubuh orang yang dicintai.

Maka setelah tidak ada seujung kuku pun saya mengalami derita yang dirasakan rakyat Palestina, khususnya Gaza, masih pantaskah saya menilai bahwa ini salah Hamas semata?

Setelah pembantaian Sabra Shatila, Jenin yang membara, ribuan pengungsi yang terlunta, dan tentu saja Aqsa yang masih tersandera lantas saya bersuara "Hei, Israel kan hanya membela diri, siapa suruh Hamas 'caper' ngirim roket ke wilayahnya?"


*Tulisan ini dibuat atas kesakit-hatian yang saya rasakan melihat komentar yang entah saya anggap tidak berimbang atas apa yang sekarang terjadi di jalur Gaza

Saya sadar, betapapun saya bukan orang yang mudah berbicara di depan umum, bukan pula orang yang mudah membina rapport dengan orang yang baru ditemui

Saya juga bukan orang yang pintar dan runut dalam menulis, bukan pula seorang yang kreatif yang dapat menemukan ide dan menuliskannya dengan lancar....

Namun, meski begitu saya mau berusaha, mau belajar untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut
Demi sebuah pencapaian cita-cita, demi mengejar segala asa....

Semoga dipermudah semuanya, mumpung Ramadhan mari banyak-banyak berdoa

Do your best and let God do the rest


*Mohon doa untuk kelancaran tes tahap akhir tanggal 14 dan 15 Juli dalam perjuangan menjemput impian ini, semoga lancar semuanya dan yang terpenting hasilnya sesuai dengan keinginan saya dan keridhoan Allah tentunya :)



NewerStories OlderStories Home