Cuaca di tiap daerah, tak akan ada yang pernah dapat memprediksinya dengan tepat. Hal itu bergantung hanya pada kehendak Allah, kapan Allah ingin memberikan hujan, kapan Allah ingin memberikan panas. Manusia hanya dapat memperkirakan dan merespon cuaca yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Jika cuaca dingin kita bisa menyiasatinya dengan memakai baju tebal, dan jika cuaca panas kita bisa mengatasinya dengan memakai pendingin ruangan. Cuaca pun bisa berbeda pernah sama antar negara. Di satu negara cuaca bisa saja sangat dingin, dan di negara yang lain cuacanya bisa sangat bersahabat.

Ibarat cuaca, ujian dalam kehidupan yang terjadi pada diri kita juga bergantung pada kehendak Allah. Dari suatu keadaan lapang yang kita miliki dalam sekejap bisa saja Allah merubah keadaan kita menjadi sangat sempit. Ujian ini juga tentunya berbeda dari satu manusia ke manusia lainnya. Allah hanya memberikan ujian sesuai dengan kadar kesanggupan pribadi kita masing-masing. Hal ini sangat jelas termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 286  “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.

Meskipun ujian diberikan berdasarkan dasar kesanggupan seseorang, akan tetapi ternyata respon dalam menghadapi ujian tersebut bisa berbeda antar pribadi. Ada yang bisa bersyukur ketika diuji dengan limpahan materi, namun tiba-tiba menjadi kufur ketika kehilangan materi tersebut. Ada pula yang tetap konsisten bersyukur dalam keadaan berlimpah materi maupun kesempitan materi. Rasulullah saw menjalaskan bahwasanya besar dan dahsyatnya suatu ujian itu sesuai dengan kemampuan dan keimanan kita. Hal ini terekam lewat percakapan nabi dengan seorang sahabat, Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Para Nabi lalu orang-orang saleh lalu yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seorang hamba diberi cobaan sesuai kadar keimanannya. Bila imannya kuat, ditambahlah cobaan untuknya dan bila imannya lemah diringankanlah cobaannya. Maka tiada henti bala menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki sedikitpun dosa. “ (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023)”.

Konsistensi respon syukur dalam setiap “cuaca” bisa kita teladani dari seorang Ayyub AS. Di satu fase hidup, Allah pernah mengujinya dengan gelimang harta yang berlimpah, anak-anak yang menjadi penyejuk hati, penghormatan banyak orang terhadap dirinya, dan juga seorang istri yang sholehah. Akan tetapi dalam sekejap Allah merubah keadaannya menjadi miskin papa, kehilangan satu per satu anak yang dicintainya, cacian dan makian karena penyakit yang dideritanya, dan istri yang akhirnya meninggalkannya lantaran tidak tahan selama bertahun-tahun memikul keadaan tersebut.

Lantas apa yang dilakukan oleh seorang Ayyub? Mencacikah Ia kepada Allah? Kufurkah Ia kepada Allah? Sama sekali tidak. Ia tetap menjadi hambaNya yang sholeh dan ikhlash sama ketika ia berada pada kondisi tidak kekurangan sesuatu apapun. Ia tak sekalipun berpaling dari Allah SWT. Harapan dan doa selalu ia panjatkan kepadaNya, dan berita ini Allah sampaikan dalam surah cintaNya (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83) *menurut syaikh Thabarsi, doa ini adalah sebuah metafora lembut bagi para pencari hajat (Majma’ul Bayan, jilid 7, hal. 59).

Kisah Ayyub jelas menggambarkan ketawakalan, ikhtiar, dan harapan yang tak pernah putus kepada Allah SWT. Seorang Ayyub membuktikan bahwa ketawakalan kepada Allah merupakan respon terbaik bagi keadaan “cuaca” apapun. Hal inipun diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih).

Oleh karena itu yang terpenting dari semuanya adalah “respon” kita terhadap setiap cuaca, bukan pada “cuaca” itu sendiri.



*semoga kita selalu bisa konsisten bersyukur dalam kondisi "cuaca" apapun
Yeaaaaah.....!


Hip..hip...huraaa.....akhirnya sekarang saya punya blog juga di blogspot. Sebenernya sih saya juga dah punya blog sendiri di multiply. Tapi.... banyak yang mendorong saya untuk membuat blog di blogspot ini atau di wordpress dengan alasan biar bisa dikomen tanpa menjadi anggota terlebih dahulu *fyi: Multiply hanya bisa dikomen oleh orang-orang yang punya blog di multiply juga.

Maka jadilah...Taaaa...Raaa.....My Life Scrapbook dengan alamat situs melangkahkesurga.blogspot.com. Harapannya dengan goresan-goresan ini dapat menambah langkah-langkah saya agar bisa menapak ke surgaNya...(aamiin). Oh ya blog ini juga dibuat sekaligus untuk memenuhi amanah dari pembimbing skripsi saya *fyi: saat pamitan sama pak gagan buat tinggal di singapur, beliau meminta saya untuk men-share-kan apa saja yang saya pelajari agar dapat dibaca oleh orang lain, keren kan pembimbing saya ^^d


Dan......blog ini juga sebagai ajang saya untung ngalay, menggalau, dan meng-PDA (dengan suami tentunya) saya *pindah dari facebook ke sini ah supaya gak ngeganggu orang gara-gara news feednya penuh status-status saya dan suami **no offense :D

So, mari-mari dikunjungi ya "rumah" baru saya ini....


diambil dari http://dondanang.files.wordpress.com
Yuhu, kali ini saya berniat ingin membahas masalah yang agak serius. Ya, apalagi kalo bukan peran orangtua terhadap perkembangan anaknya. Dan tema yang akan dibahas kali ini (lagi-lagi) soal ayah.

Mengapa saya memilih tema ini (lagi)? Jadi begini ceritanya saudara-saudara.... Tulisan ini terstimulus dari hasil penelitian yang dilakukan oleh sahabat saya, Erika, 2011. Jadi topik penelitian dia adalah membandingkan attachment (penjelasan singkatnya: ikatan emosi khusus yang melibatkan pertukaran kenyaman, kepedulian, dan kesenangan) dengan AYAH antara kelompok pria dan waria (dalam hal ini waria didefinisikan sebagai pria yang mengalami gender identity disorder). Dan ternyata saudara-saudara hasilnya dari sekitar masing-masing 80an partisipan dari kedua kelompok tersebut, hasilnya menunjukkan perbedaan mean yang signifikan antara kelompok laki-laki dan waria. Ditemukan bahwa ternyata mean attachment dengan ayah pada waria lebih kecil dibandingkan dengan mean attachment pada pria. *untuk lebih jelasnya mengenai penelitian ini, anda dapat menghubungi erika ya... :)

Apa yang bisa kita peroleh dari penelitian ini? Tentu saja hasil penelitian ini bukan serta merta menjadi "solusi" dalam mengatasi fenomena pria yang merasa sebagai wanita (mengalami gender identity disorder maksudnya), karena bisa jadi kemungkinan perbedaan mean tersebut disebabkan oleh "situasi" yang dihadapi oleh waria itu sendiri dengan ayahnya. Maksudnya begini, attachment dengan ayah tidak terbentuk dengan baik karena ayah menolak dengan "keadaan" waria tersebut. Atau memang justru attachment yang rendah dengan ayah menjadi salah satu faktor yang mendukung perubahan gender identity tersebut *FYI: sampai sekarang masih terjadi banyak perdebatan tentang faktor penyebab dari GID sendiri.

Dibutuhkan penelitian yang panjang dan lebih mendalam mengenai faktor yang menyebabkan perubahan gender tersebut. Akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh sahabat saya ini mungkin bisa menjadi WARNING bagi para ayah  (atau calon ayah) *khususnya yang memiliki anak laki-laki, untuk terus terlibat dan attach dengan anak mereka.

Selain karena "warning" di atas, tentunya masih banyak lagi peran penting seorang ayah dalam pembentukan diri anaknya, seperti yang pernah saya jelaskan di sini.

Maka, mari ayah dan calon ayah, persiapkan dirimu untuk mempersiapkan anakmu kelak. Karena seorang anak akan selalu belajar dari orang-orang di sekelilingnya ^^v



Pioneer, 27 Juli 2011
NewerStories OlderStories Home