Rebenernya ini resep bukan aseli dari saya (yaiyalah gak mungkin juga kali put...dirimu emang orang mana?). Resep ini pemberian dari tetangga saya yang aseli orang palembang, hehe. Gak ada aturan yang pas, intinya sih make ilmu kirologi aja :D. Yang berpengaruh adalah step by step dari langkah-langkahnya. Berikut resepnya.

Pertama kita buat adonan dari tepung terigu, kalo di blog2 lain namanya adonan biang.

1. tepung terigu (karena dari awal pake ilmu kirologi, jadi saya cuma pake 4 sdm saja)
2. air (gak usah banyak2. kira-kira segelas)
3. garam secukupnya
4. gula dikit aja (-/+1sdt)
5. penyedap rasa (dikit aja)
6. 3-4 bawang putih dihaluskan
*ada yang bilang pake sedikit minyak goreng biar lembut, tapi saya belum pernah coba

Adonan 2
1. daging ikan tengiri atau gabus (tapi kemarin saya bikin pake ikan batang) *makin banyak daging ikan, makin berasa. kalo waktu itu di rumah saya pake 1/2 kg ikan tengiri, kemarin karena coba bikin dikit cuma sekitar 200 gr-an
2. tepung sagu tani atau bisa diganti dengan tepung tapioka

Cara membuatnya:
pertama untuk adonan biang, campur semua bahan jadi satu, terus aduk-aduk biar rata. Masak di atas api (sedang aja) sampai mengental seperti lem. Kalau sudah, tunggu sampai dingin (boleh di taruh di lemari pendingin dulu kalo bikin empek-empeknya entaran).


Untuk adonan 2, pisahan daging ikan dengan durinya. Lalu hancurkan daging ikan, bisa pake pirikan ikan, gilingan, ataupun blender *eh sebelumnya ikannya dicuci dulu ya :p. simpan

Nah kalo dah pengin bikin empek-empeknya nih, siapkan adonan biang lalu campurkan dengan adonan ikan. Tambahkan sedikit demi sedikit tepung sagu tani atau tepung tapioka. Ini di kira-kira aja, semakin banyak tepung sagu atau tepung tapioka, akan semakin keras empek-empeknya dan ikannya juga gak berasa. Jangan di tambah air lagi.

Kalo dah bisa dibentuk yaudah deh, bentuk sesuai selera. Bisa lenjer, kapal selam, dsb.

Rebus dalam air mendidih, angkat bila sudah mengapung. Sebenernya bisa juga langsung di makan, tapi lebih enak digoreng lagi...hehe.

Untuk cukanya, bahannya:
gula merah atau gula aren (di Sg saya pakenya black sugar)
asam jawa
air
*perbandingan gula merah: asam jawa: air= 100 (gr): 10 (gr) : 1 (gelas) **tapi sekali lagi, saya pake ilmu kirologi
bawang putih 5-8 siung, dihaluskan
ebi (jangan kebanyakan dan juga jangan kedikitan, 3 sendok makan aja) dihaluskan
cabe rawit (sesuai selera)
garam

caranya: campur gula merah, asem dan air, masak sampai gula larut, saring.
Lalu masukkan bawang putih, ebi dan cabe rawit. Tambahkan garam, masak hingga mendidih.

Nah, itu step by stepnya. tapi sekali lagi saya masaknya pake ilmu kirologi, hehe. Maaf ya kalo gak jelas. Selamat mencoba... ^^



ini foto empek-empek yang dibuat di Indo tapinya, hehe
Hiyaaa..... gara-gara ngeliat foto-foto bento yang lucu di sini saya jadi termotivasi buat bikin bento. Entah mengapa saya suka sama taglinenya, "Para pecinta Bento yang meluangkan waktu untuk menambah nilai sebuah 'bekal'".


Hihi, kebetulan memang suami minta dibawain bekel ke kantor, selain karena alasan penghematan (maklum kantornya di daerah Orchard jadinya harga makanannya lumayan mahal), dengan membawa bekal ia jadi bisa lebih mengefisienkan waktu istirahat (pasalnya untuk sholat ia harus pergi ke masjid, eh bisa juga sih sebenernya sholat di tangga :D)


Maka...jeng..jeng..jeng...jadilah saya berburu peralatan bento. Awalnya saya cari tau dulu kisaran harganya. Hmm ternyata peralatannya macem-macem. ada yang namanya nori puncher, kayak gini nih 


ini untuk memotong nori bentuk mata dan mulut

Terus ada juga cetakan nasi, cetakan telur, dsb. Nah karena ternyata harganya lumayan mahal kalo beli online maka saya coba nanya-nanya siapa tau di sini (singapur maksudnya) ada toko japan yang ngejual peralatan bento ini dengan harga yang murmer alias murah meriah. 

Dan setelah bertanya-tanya sama yang udah lama tinggal di singapur, jadilah satu referensi toko yang saya kunjungi, yaitu DAISO JAPAN. Langsung deh kemarin bada silaturahim saya dan suami meluncur ke sana. 

Saya dan suami pergi ke toko DAISO JAPAN di Jurong East. Cukup senang juga ternyata semua barang di sana dipatok harganya 2 SGD saja (kalo di rupiah-in kira-kira 14ribuan). Hampir kalap, tapi akhirnya saya tersadar dengan kondisi kantong yang harus dicukup-cukupi sampai akhir bulan (maklum ini kan awal bulan, masih lama jo akhir bulannya, hihi). Dan taraa..... inilah hasil perburuan saya kemarin 


Ada 5 macam barang terdiri dari cetakan nasi love, cetakan bintang, nori puncher, cetakan telur ceplok bentuk ayam dan terakhir cetakan telur. Murah meriah-lah dibanding kalo saya beli secara online. Sebenernya ini bisa dibilang peralatan dasar. Kalo mau lebih cantik lagi bentonya ada tuh hiasan (pembatas lauk gitu deh) bentuknya kaya rumput-rumputan, dan masih banyak lagi deh pernak-pernik ngebuat bento yang masuk daftar list saya (sabar puti...sabar ya... *ini a' delta udah ngelus-ngelus kantong :D).


Hihi, moga bermanfaat dan membuat suami saya makin cinta sama masakan saya. *aamiin.............

So, inilah kreasi bento pertama saya (terdiri dari nasi, rendang dan tumis taugeJamur)

mungkin saya kasih nama "Bento Centil" kali ya, wkwkwk

* Singapura, 5 September 2011

Cuaca di tiap daerah, tak akan ada yang pernah dapat memprediksinya dengan tepat. Hal itu bergantung hanya pada kehendak Allah, kapan Allah ingin memberikan hujan, kapan Allah ingin memberikan panas. Manusia hanya dapat memperkirakan dan merespon cuaca yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Jika cuaca dingin kita bisa menyiasatinya dengan memakai baju tebal, dan jika cuaca panas kita bisa mengatasinya dengan memakai pendingin ruangan. Cuaca pun bisa berbeda pernah sama antar negara. Di satu negara cuaca bisa saja sangat dingin, dan di negara yang lain cuacanya bisa sangat bersahabat.

Ibarat cuaca, ujian dalam kehidupan yang terjadi pada diri kita juga bergantung pada kehendak Allah. Dari suatu keadaan lapang yang kita miliki dalam sekejap bisa saja Allah merubah keadaan kita menjadi sangat sempit. Ujian ini juga tentunya berbeda dari satu manusia ke manusia lainnya. Allah hanya memberikan ujian sesuai dengan kadar kesanggupan pribadi kita masing-masing. Hal ini sangat jelas termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 286  “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.

Meskipun ujian diberikan berdasarkan dasar kesanggupan seseorang, akan tetapi ternyata respon dalam menghadapi ujian tersebut bisa berbeda antar pribadi. Ada yang bisa bersyukur ketika diuji dengan limpahan materi, namun tiba-tiba menjadi kufur ketika kehilangan materi tersebut. Ada pula yang tetap konsisten bersyukur dalam keadaan berlimpah materi maupun kesempitan materi. Rasulullah saw menjalaskan bahwasanya besar dan dahsyatnya suatu ujian itu sesuai dengan kemampuan dan keimanan kita. Hal ini terekam lewat percakapan nabi dengan seorang sahabat, Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Para Nabi lalu orang-orang saleh lalu yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seorang hamba diberi cobaan sesuai kadar keimanannya. Bila imannya kuat, ditambahlah cobaan untuknya dan bila imannya lemah diringankanlah cobaannya. Maka tiada henti bala menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki sedikitpun dosa. “ (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023)”.

Konsistensi respon syukur dalam setiap “cuaca” bisa kita teladani dari seorang Ayyub AS. Di satu fase hidup, Allah pernah mengujinya dengan gelimang harta yang berlimpah, anak-anak yang menjadi penyejuk hati, penghormatan banyak orang terhadap dirinya, dan juga seorang istri yang sholehah. Akan tetapi dalam sekejap Allah merubah keadaannya menjadi miskin papa, kehilangan satu per satu anak yang dicintainya, cacian dan makian karena penyakit yang dideritanya, dan istri yang akhirnya meninggalkannya lantaran tidak tahan selama bertahun-tahun memikul keadaan tersebut.

Lantas apa yang dilakukan oleh seorang Ayyub? Mencacikah Ia kepada Allah? Kufurkah Ia kepada Allah? Sama sekali tidak. Ia tetap menjadi hambaNya yang sholeh dan ikhlash sama ketika ia berada pada kondisi tidak kekurangan sesuatu apapun. Ia tak sekalipun berpaling dari Allah SWT. Harapan dan doa selalu ia panjatkan kepadaNya, dan berita ini Allah sampaikan dalam surah cintaNya (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83) *menurut syaikh Thabarsi, doa ini adalah sebuah metafora lembut bagi para pencari hajat (Majma’ul Bayan, jilid 7, hal. 59).

Kisah Ayyub jelas menggambarkan ketawakalan, ikhtiar, dan harapan yang tak pernah putus kepada Allah SWT. Seorang Ayyub membuktikan bahwa ketawakalan kepada Allah merupakan respon terbaik bagi keadaan “cuaca” apapun. Hal inipun diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih).

Oleh karena itu yang terpenting dari semuanya adalah “respon” kita terhadap setiap cuaca, bukan pada “cuaca” itu sendiri.



*semoga kita selalu bisa konsisten bersyukur dalam kondisi "cuaca" apapun
NewerStories OlderStories Home